assalamu'alaikum semuaaa :D
“Sistem Yang Rusak Perlu Revolusi
Hingga Akar”
Narkoba
pada dewasa ini mungkin namanya tak asing lagi kita dengar apalagi dengan
banyaknya pemberitaan di media massa tentang pengungkapan kasus peredaran
narkoba hingga menyelinap ketengah-tengah pemukiman masyarakat, sasarannya pun
lebih dibidik kepada anak usia sekolah yang notabene belum bisa berfikir jangka
panjang serta mudah masuknya pengaruh dari teman-teman sebaya yang sering kali
menjadi pemicu utama meningkatnya pengguna narkoba di kalangan pelajar.
Berdasarkan
data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku dengan
tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. selang beberapa tahun
kemudian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kasus penyalahgunaan
narkoba semakin mengancam anak-anak. Jumlah penggunanya di kalangan remaja meningkat fantastis yaitu
naik menjadi 14 ribu jiwa dengan rentang usia 12-21 tahun. Fakta mencengangkan
diungkapkan kembali oleh kepala BNN kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) Murniati
mengatakan pengguna narkoba di kota itu selama 2016 didominasi oleh kalangan
pelajar.
Kasus
serupa yang seringkali menjerat remaja ialah Miras (Minuman Keras), selama
tujuh tahun belakangan konsumsi miras dikalangan remaja meningkat tajam, jika
pada 2007 berdasarkan riset kesehatan dasar departemen kesehatan jumlah remaja
pengonsumsi miras di Indonesia masih diangka 4,7 %, namun pada 2014 berdasarkan
hasil riset yang dilakukan Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM) jumlahnya
melonjak drastis hingga menyentuh angka 23 % dari total jumlah remaja Indonesia
yang saat ini berjumlah 63 juta jiwa atau sekitar 14,4 juta orang.
Tidak
hanya itu terlalu longgarnya pengawasan peredaran miras ditoko-toko ritel kecil
mengakibatkan 18.000 nyawa yang melayang akibat miras setiap tahunnya, dan
sepertiganya atau 6.000 orang adalah remaja, baik karena meminum sendiri atau
karena menjadi korban dibawah pengaruh minuman syetan tersebut.
Penyebaran
kedua barang berbahaya itu pun semakin diperparah dengan kondisi lingkungan tempat
remaja masa kini bergaul yang identik dengan pencamburbauran laki-laki dengan
perempuan (ikhtilat), trend pacaran yang menjadi fenomena menghebohkan, serta
kurang peka nya pemerintah terhadap persoalan yang tengah mengancam generasi
muda masa kini.
Secara
umum dilihat dari penyebab problematika tersebut yaitu kurangnya keimanan atau
dasar pemikiran serta pemahaman islam yang tertanam dalam diri individu
masing-masing terutama remaja sehingga menyebabkan bebasnya tingkah laku mereka
serta pada aktifitas yang dilakukannya, ini menjadi faktor utama dalam manusia
menentukan segala tindak tanduknya karena ketika ia memahami hakikat keimanan
kepada Allah SWT maka ia akan menjalankan aturan Rabb nya bukan semata karena
nafsunya atas kesenangan dunia yang barang sesaat saja.
Negara
kita menganut sistem demokrasi sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) dan
liberal (bebas) yang katanya rakyat menjadi penguasa, kedaulatan ditangan kami
serta undang-undang atas aspirasi kami, namun pada realitasnya kami hanya dijadikan
simbol dalam struktural pemerintahan elit masa kini yang lebih mengagungkan
kepentingan pribadi diatas kepentingan rakyat. Lantas ada apa dengan negeri
ini?
Coba
kita tengok sejarah kejayaan islam sebagai ideologi pada masa lalu yang diterapkan
sehingga dapat menorehkan tinta emas dilangit cakrawala dunia dengan
kegemilangan yang bertubi-tubi umat islam sumbangkan, apakah Muhammad Al Fatih
penakluk Konstantinopel, Ibnu Sina sebagai penulis kitab Al-Qanun tentang mata,
atau bahkan Al Idrisi bapak geografi dunia apakah mereka di didik dengan
istilah sekulerisme atau liberalisme, yang senantiasa menggempur dan menggilas
pemikiran islam dengan sadisnya dan merontokkan pemahaman islam dalam benak
kaum muslimin terutama pemudanya?
Mereka
besar di lingkungan kondusif yang membawa angin segar harapan dan semangat jiwa
perubahan dengan sistem yang menaunginya, contoh tersebut ialah satu dari
ribuan contoh keagungan sistem islam dalam melahirkan generasi penerus.
Bukankah
cita-cita terbesar negeri ini ialah merdeka dari segala bentuk penjajahan
diatas dunia? Sadarilah bahwa sekulerisme dan liberalisme bagai duri berselimut
daging sebagai alat dari para penjajah barat untuk merusak mental anak bangsa.
Merusak moral dan etika yang sudah berabad-abad menjadi tradisi bangsa ini.
Sekalipun
orang yang baik masuk kedalam sistem yang buruk maka ia akan keluar sebagai
orang yang buruk, berbeda hal nya dengan orang yang baik masuk kedalam sistem
yang baik maka akan melahirkan orang yang lebih baik.
Maka
bisa kita pahami bahwa generasi muda yang sukses dilahirkan dari pemahaman yang
mendalam tentang arti keimanan kepada Rabb nya, bukan dikungkung dengan
berbagai macam pemahaman yang berseberangan dengan islam.
Nah,
lalu bagaimana solusi agar generasi muda khususnya di Indonesia agar menjadi
pemuda untuk perubahan masa depan negeri ini?
Mari
kita berjuang mengembalikkan kehidupan islam agar bisa melahirkan generasi
mutiara peradaban yang bisa menjadikkan masyarakat sejahtera dengan penerapan
islam dalam segala aspek kehidupan dan menghidupkan kembali lingkungan dengan
semangat juang meraih ridha Illahi.
Henti Widasari
2 Februari 2017
Henti Widasari
2 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar